Pendidikan Warisan Paling Mewah Yang Dimiliki Seseorang
Dalam kerangka Ilmu Pendidikan, pendidikan sering kali dipahami sebagai proses pembentukan manusia. Namun jika ditarik lebih jauh, pendidikan juga dapat dimaknai sebagai bentuk “warisan paling mewah” yang dimiliki seseorang—bukan dalam arti material, melainkan sebagai akumulasi nilai, pengetahuan, dan cara berpikir yang menetap dalam diri dan melampaui batas waktu.
Berbeda dengan warisan berupa harta, pendidikan tidak mengalami depresiasi. Ia justru mengalami apresiasi kognitif: semakin digunakan, semakin berkembang. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran John Dewey yang melihat pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman secara terus-menerus. Artinya, apa yang diwariskan melalui pendidikan bukan sekadar informasi, tetapi kemampuan untuk terus belajar, menafsirkan, dan menciptakan makna baru. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi aset yang tidak bisa dicuri, dirampas, atau habis dibagi.
Lebih jauh, Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep cultural capital, yaitu bentuk modal non-material seperti pengetahuan, keterampilan, dan disposisi intelektual yang diwariskan melalui pendidikan. Inilah yang membuat pendidikan menjadi “mewah”: ia memberi seseorang posisi tawar dalam kehidupan sosial tanpa harus selalu bergantung pada kekayaan ekonomi. Seseorang yang terdidik membawa warisan itu ke mana pun ia pergi, dalam cara ia berbicara, berpikir, mengambil keputusan, hingga memaknai dunia.
Namun, di tengah realitas modern, muncul skeptisisme: apakah pendidikan benar-benar bernilai, atau justru sekadar “scam” yang menjanjikan mobilitas sosial tetapi tidak selalu terpenuhi? Kritik ini tidak sepenuhnya keliru, terutama ketika pendidikan direduksi menjadi komoditas gelar, sertifikat, atau simbol status. Dalam kondisi ini, pendidikan memang bisa kehilangan makna substantifnya dan tampak seperti ilusi.
Meski demikian, menyebut pendidikan sebagai “scam” adalah penyederhanaan yang problematis. Kritik tajam dari Paulo Freire justru menyoroti bahwa yang bermasalah bukan pendidikan itu sendiri, melainkan model pendidikan yang menindas yang hanya mengisi tanpa membebaskan. Pendidikan yang otentik, menurut Freire, adalah proses humanisasi: ia membangkitkan kesadaran kritis (conscientization) dan memungkinkan individu memahami serta mengubah realitasnya.
Dengan demikian, pendidikan tetaplah warisan paling mewah tetapi dengan satu syarat: ia harus dipahami sebagai proses, bukan produk. Ketika pendidikan direduksi menjadi sekadar ijazah, ia kehilangan kemewahannya. Namun ketika ia dihayati sebagai kemampuan untuk berpikir, meragukan, dan memahami dunia secara lebih dalam, ia menjadi sesuatu yang tak ternilai.
Warisan materi dapat habis dalam satu generasi, tetapi pendidikan dapat melampaui generasi. Ia tidak hanya membentuk siapa kita hari ini, tetapi juga menentukan bagaimana kita membentuk masa depan. Dalam pengertian inilah pendidikan bukanlah scam, melainkan investasi eksistensial sebuah warisan sunyi yang bekerja dalam cara kita melihat dunia, bahkan ketika dunia tidak lagi sama.
Post a Comment