Header Ads

Sejarah Ditulis Pemenang: Siapa yang Dihapus?

Ungkapan “sejarah ditulis oleh pemenang” sering diucapkan seolah-olah ia kebenaran yang sudah selesai. Namun, di balik kalimat sederhana itu tersimpan persoalan yang jauh lebih dalam: siapa yang dimaksud sebagai pemenang, dan siapa yang sengaja atau tak sengaja dihapus dari ingatan kolektif? Sejarah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan medan perebutan makna, legitimasi, dan kekuasaan.

Sejarah sebagai Narasi, Bukan Cermin Netral

Dalam historiografi modern, sejarah tidak lagi dipahami sebagai cermin objektif dari peristiwa masa lalu. Sejarawan E. H. Carr, dalam What Is History?, menegaskan bahwa fakta sejarah tidak pernah berbicara dengan sendirinya. Fakta menjadi “historis” ketika dipilih, ditafsirkan, dan dirangkai oleh sejarawan dalam kerangka tertentu.

Dengan kata lain, sejarah adalah narasi yang dibentuk oleh sudut pandang, bukan sekadar kronologi peristiwa. Di sinilah ruang bias terbuka lebar: apa yang dicatat, apa yang ditekankan, dan apa yang diabaikan sangat bergantung pada kepentingan zamannya.

Pemenang, Kekuasaan, dan Legitimasi

Sejak era kuno, penulisan sejarah kerap menjadi alat legitimasi kekuasaan. Dinasti-dinasti besar di Mesir, Romawi, hingga Tiongkok kuno mencatat kemenangan, kejayaan raja, dan stabilitas politik, sambil menyingkirkan cerita tentang pemberontakan, kekalahan, atau penderitaan rakyat biasa.

Michel Foucault, melalui gagasan power/knowledge, membantu menjelaskan fenomena ini. Pengetahuan—termasuk sejarah—tidak berdiri di luar kekuasaan, melainkan berkelindan dengannya. Mereka yang memegang otoritas politik dan institusional memiliki sumber daya untuk menentukan versi sejarah mana yang diajarkan, diarsipkan, dan diwariskan.

Dalam konteks negara-bangsa modern, kurikulum pendidikan, monumen, dan arsip nasional menjadi instrumen utama pembentukan ingatan kolektif. Sejarah versi negara sering tampil sebagai kisah resmi, sementara suara-suara alternatif terpinggirkan.

Siapa yang Dihapus dari Sejarah?

Jika sejarah ditulis oleh pemenang, maka yang kerap terhapus adalah mereka yang kalah, tunduk, atau dianggap tidak penting. Howard Zinn, melalui A People’s History of the United States, menunjukkan bagaimana sejarah arus utama Amerika mengabaikan pengalaman buruh, masyarakat adat, perempuan, dan kelompok rasial yang tertindas.

Fenomena serupa terjadi di banyak tempat: sejarah kolonial sering ditulis dari sudut pandang penjajah, bukan yang dijajah; sejarah nasional lebih banyak merayakan elite politik daripada rakyat biasa; dan konflik sosial kerap disederhanakan demi stabilitas narasi resmi.

Gayatri Chakravorty Spivak menyebut kondisi ini sebagai persoalan subaltern: kelompok-kelompok yang suaranya tidak terdengar karena tidak memiliki akses pada bahasa, institusi, dan arsip kekuasaan. Mereka bukan hanya kalah secara politik, tetapi juga kalah dalam pencatatan sejarah.

Arsip, Ingatan, dan Kekerasan Sunyi

Penghapusan dalam sejarah tidak selalu berbentuk kebohongan terang-terangan. Ia sering hadir sebagai keheningan. Peristiwa tertentu tidak dibicarakan, dokumen tidak dibuka, atau ingatan kolektif diarahkan untuk melupakan. Paul Ricoeur menyebut ini sebagai politik ingatan (memory politics): proses selektif dalam mengingat dan melupakan masa lalu.

Keheningan ini merupakan bentuk kekerasan simbolik. Ketika pengalaman suatu kelompok tidak diakui sebagai bagian dari sejarah, penderitaan mereka kehilangan bahasa dan legitimasi. Sejarah, dalam hal ini, menjadi alat penertiban memori.


Membuka Kembali Sejarah dari Pinggiran

Sejak paruh kedua abad ke-20, muncul upaya sistematis untuk menantang narasi sejarah yang dominan. Sejarah sosial, sejarah lisan, dan kajian pascakolonial berusaha menghadirkan kembali suara-suara yang terpinggirkan. Edward Said, melalui Orientalism, menunjukkan bagaimana pengetahuan Barat tentang Timur dibentuk oleh relasi kuasa kolonial, bukan realitas objektif semata.

Pendekatan ini tidak bertujuan mengganti satu narasi dominan dengan narasi lain, melainkan membuka ruang bagi pluralitas sejarah. Sejarah tidak lagi tunggal, melainkan berlapis dan penuh ketegangan.

Sejarah sebagai Medan Etis dan Politis

Menyadari bahwa sejarah ditulis oleh pemenang bukan berarti menolak sejarah itu sendiri. Justru kesadaran ini menuntut sikap kritis terhadap sumber, narasi, dan otoritas pengetahuan. Sejarah harus diperlakukan sebagai proses dialogis yang terus-menerus, bukan kitab suci yang beku.

Pertanyaan “siapa yang dihapus?” mengandung tuntutan etis: untuk mendengarkan suara yang lama dibungkam dan mengakui luka yang tidak tercatat. Di tengah krisis ingatan kolektif dan politisasi masa lalu, tugas sejarah bukan sekadar mengingat, tetapi juga membongkar mekanisme lupa.

Pada akhirnya, sejarah yang adil bukanlah sejarah tanpa pemenang, melainkan sejarah yang memberi ruang bagi mereka yang selama ini kalah—bukan hanya dalam peristiwa, tetapi juga dalam cerita tentang peristiwa itu.

No comments

Powered by Blogger.